
Lobak Singgalang (Brassica oleraceae L.) merupakan jenis kubis-kubisan yang diintroduksi ke daerah Gunung Singgalang oleh Pemerintah Kolonial Belanda, dan mampu beradaptasi dengan kondisi daerah tersebut selama ratusan tahun tanpa mengalami fase generatif. Hal ini mengindikasikan bahwa aliran gen antar individu dan varian tidak terjadi. Tumbuhan ini menjadi menarik untuk diteliti terutama dalam kaitannya dengan perubahan iklim global, karena adaptabilitasnya dari daerah empat musim ke daerah dua musim. Salah satu faktor lingkungan yang menjadi penting dalam adaptasi tumbuhan terhadap lingkungan adalah kondisi paparan ultraviolet-B (UV-B). Pada penelitian ini, lobak singgalang diberi beberapa intensitas paparan UV-B (0,3 – 3 µmol.m-2.s-1) selama empat jam. Pemberian paparan UV-B dilakukan selama dua minggu dengan tujuan untuk menganalisis respon fisiologis, anatomis dan ekspresi gen CHALCONE SYNTHASE (CHS) terhadap paparan UV-B. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ekspresi gen CHS meningkat seiring dengan peningkatan intensitas paparan UV-B. Selanjutnya, peningkatan paparan UV-B menurunkan kandungan klorofil dan karotenoid pada daun. Struktur stoma juga dipengaruhi oleh paparan UV-B ini (peningkatan panjang stomata, kerapatan stomata dan indeks stomata). Selanjutnya, paparan UV-B rendah cenderung meningkatkan akumulasi antosianin, sedangkan paparan UV-B tinggi cenderung ke akumulasi flavonoid.
Berdasarkan hasil penelitian ini, pengembangan lobak singgalang sebagai salah satu sumber nutraseutical ataupun functional food bisa menjadi salah satu sasaran kedepannya. Pada penelitian ini terjadi pengayaan metabolit sekunder yang penting sehingga nilai jualnya sebagai tanaman sayuran berkhasiat menjadi meningkat dan semakin terbuka prospek pengembangannya