
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya prevalensi stunting di Indonesia, khususnya di Kabupaten Pasaman Barat, serta masih terbatasnya pemahaman masyarakat terhadap pesan pencegahan stunting yang disampaikan melalui kegiatan Posyandu. Tantangan utama terletak pada penerimaan pesan kesehatan yang dipengaruhi oleh bahasa teknis, akses layanan, serta tingkat keterlibatan keluarga dalam proses edukasi gizi dan pengasuhan anak. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus di Nagari Koto Tangah, Kecamatan Koto Balingka. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi non-partisipan kegiatan Posyandu, serta studi dokumentasi terhadap informan yang terdiri dari ibu, kader Posyandu, dan bidan desa. Analisis dilakukan menggunakan model interaktif Miles–Huberman dengan kerangka teori Elaboration Likelihood Model (ELM) untuk mengidentifikasi jalur pemrosesan pesan persuasif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat menerima pesan melalui jalur periferal yang didorong oleh kepercayaan pada komunikator, sementara pemrosesan sentral muncul ketika pesan disampaikan dengan bahasa sederhana, contoh konkret, serta dialog tatap muka interaktif. Pendekatan ini terbukti meningkatkan pemahaman, motivasi, dan kesiapan keluarga dalam melakukan perilaku pencegahan stunting secara berkelanjutan
Penelitian ini memiliki potensi kebermanfaatan yang signifikan baik secara teoretis maupun praktis dalam pengembangan komunikasi kesehatan berbasis masyarakat. Secara teoretis, penggunaan kerangka Elaboration Likelihood Model (ELM) memperkaya kajian komunikasi persuasif pada konteks pedesaan dengan menunjukkan bahwa efektivitas pesan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh isi pesan, tetapi juga oleh kredibilitas komunikator, kesesuaian bahasa dengan pengalaman sehari-hari, serta ruang interaksi yang memungkinkan elaborasi kognitif penerima. Temuan mengenai dominasi jalur periferal dan kondisi yang mendorong pergeseran menuju pemrosesan sentral memberikan kontribusi konseptual bagi penguatan model komunikasi kesehatan yang lebih kontekstual dan partisipatif. Secara praktis, hasil penelitian dapat menjadi dasar perumusan strategi komunikasi pencegahan stunting di Posyandu melalui penggunaan bahasa sederhana, contoh konkret berbasis konteks lokal, serta penguatan komunikasi tatap muka dan dialog interaktif antara kader, bidan, dan keluarga. Pendekatan ini berpotensi meningkatkan pemahaman, motivasi, dan perubahan perilaku keluarga secara berkelanjutan dalam praktik pengasuhan dan pemenuhan gizi anak. Selain itu, temuan ini relevan bagi pengambil kebijakan dan tenaga kesehatan dalam merancang program edukasi yang lebih efektif, inklusif, dan berorientasi pada kebutuhan sosial-budaya masyarakat setempatHasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat menerima pesan melalui jalur periferal yang didorong oleh kepercayaan pada komunikator, sementara pemrosesan sentral muncul ketika pesan disampaikan dengan bahasa sederhana, contoh konkret, serta dialog tatap muka interaktif. Pendekatan ini terbukti meningkatkan pemahaman, motivasi, dan kesiapan keluarga dalam melakukan perilaku pencegahan stunting secara berkelanjutan.