1772182857.png&w=1080&q=75)
Meskipun prognosis kanker tiroid (TC) umumnya sangat baik, ada kekhawatiran jangka panjang mengenai risiko terjadinya keganasan primer kedua (SPM) setelah terapi yodium radioaktif (RAI). Tinjauan sistematis dan meta-analisis ini bertujuan untuk secara komprehensif memperkirakan risiko gabungan terjadinya SPM setelah terapi RAI. Pencarian sistematis dilakukan di tiga basis data (PubMed, Scopus, dan ScienceDirect), diikuti dengan pencarian sitasi. Studi observasional asli yang menilai risiko SPM setelah RAI pada TC disertakan. Skala Newcastle Ottawa digunakan untuk penilaian metodologis. STATA 17.0 digunakan untuk analisis statistik. Sebanyak 18 studi yang mencakup 1.189.992 pasien disertakan (638.275 dalam kelompok RAI dan 551.717 dalam kelompok non-RAI). Meta-analisis gabungan menunjukkan tidak ada peningkatan risiko SPM yang signifikan secara statistik pada kelompok yang diobati dengan RAI, dengan RR gabungan sebesar 1,07 (CI 95%: 0,96–1,21; p = 0,23).Hasil ini dianggap kuat berdasarkan analisis leave-one-out. Analisis subkelompok berdasarkan tahun publikasi, durasi tindak lanjut (>10 tahun vs ≤10 tahun), ukuran populasi, dan lokasi SPM (termasuk payudara, genitourinari, gastrointestinal-hepatobilier, respiratori, kulit, hematologi, sistem saraf pusat, dan kepala-leher) secara konsisten menunjukkan hasil yang sebanding. Tidak ada bukti peningkatan risiko SPM yang signifikan di antara penyintas TC yang dirawat dengan RAI.
Sebagai masukan bagi klinisi bahwa terapi yodium radioaktif tidak memeberikan data menimbulkan kanker primer kedua. Pemberian Yodium radioaktif bermanfaat bagi penderita kanker tiroid yang berdiferensiasi baik dan meningkatkan angka harapan hidup.