
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat kulit batang Garcinia cowa memiliki aktivitas sitotoksik yang signifikan terhadap sel kanker payudara T47D, dengan nilai IC₅₀ sebesar 38,71 µg/mL, yang menunjukkan kemampuannya dalam menghambat proliferasi dan menurunkan viabilitas sel kanker secara efektif. Lebih lanjut, kombinasi ekstrak dengan doksorubisin menghasilkan efek sitotoksik yang lebih kuat dibandingkan dengan pemberian masing-masing agen secara tunggal, serta menunjukkan adanya efek sinergis yang ditandai dengan nilai Combination Index (CI) kurang dari 1. Efek sinergis ini menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak sebagai agen ko-kemoterapi dapat meningkatkan sensitivitas sel kanker terhadap doksorubisin. Selain itu, kombinasi ini memungkinkan penurunan dosis doksorubisin tanpa mengurangi efektivitas sitotoksiknya, sehingga berpotensi mengurangi risiko efek samping yang sering dikaitkan dengan penggunaan doksorubisin dosis tinggi. Pada tingkat molekuler, kombinasi ekstrak dan doksorubisin terbukti mampu menginduksi apoptosis melalui peningkatan ekspresi gen pro-apoptotik p53 dan Bax, penurunan ekspresi gen anti-apoptotik Bcl-2, serta peningkatan rasio Bax/Bcl-2 yang mendukung aktivasi jalur apoptosis. Temuan ini menunjukkan bahwa ekstrak Garcinia cowa memiliki potensi kuat sebagai kandidat ko-kemoterapi berbasis bahan alam untuk meningkatkan efektivitas dan keamanan terapi kanker payudara.
Penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak etil asetat kulit batang kandis (Garcinia cowa) dengan doksorubisin memiliki efek sitotoksik sinergis melalui modulasi jalur apoptosis, yang ditandai dengan peningkatan ekspresi Bax dan penurunan Bcl-2, sehingga meningkatkan sensitivitas sel kanker terhadap kemoterapi. Temuan ini berpotensi mendukung pengembangan terapi kombinasi berbasis bahan alam sebagai agen ko-kemoterapi yang dapat meningkatkan efektivitas pengobatan kanker payudara sekaligus memungkinkan penurunan dosis doksorubisin untuk mengurangi risiko efek samping. Selain itu, hasil penelitian ini memberikan dasar ilmiah bagi pengembangan kandidat obat antikanker berbasis sumber daya hayati lokal yang lebih aman, efektif, dan berkelanjutan.