
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi hubungan kadar testosteron plasma dengan parameter kualitas semen pada ayam Kokok Balenggek (KBR), mengingat androgen berperan penting dalam fungsi reproduksi jantan. Sebanyak 15 ekor pejantan KBR umur 1–2 tahun diamati, dengan pengambilan sampel semen dan darah sebanyak 4 kali per individu pada interval 10 hari (total 60 sampel). Semen dievaluasi secara makroskopis (volume, pH, warna, dan konsistensi) serta mikroskopis (gerak massa, motilitas, viabilitas, abnormalitas, dan konsentrasi), sedangkan testosteron plasma diukur menggunakan metode competitive ELISA. Hasil menunjukkan kadar testosteron plasma rata-rata 18,90 ± 7,27 ng/mL, dengan kualitas semen relatif baik, yaitu motilitas 82,77 ± 7,04%, viabilitas 88,94 ± 1,62%, abnormalitas 9,02 ± 2,86%, dan konsentrasi 2.630 ± 696,42 juta sel/mL. Analisis korelasi Pearson menunjukkan hubungan testosteron dengan seluruh parameter kualitas semen bersifat lemah dan tidak signifikan (p>0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa testosteron plasma saja belum dapat dijadikan prediktor utama kualitas semen pada KBR. Oleh karena itu, penilaian fertilitas pejantan perlu mengombinasikan evaluasi semen, kondisi fisiologis, serta faktor lingkungan dan manajemen pemeliharaan untuk mendukung seleksi pejantan dan konservasi ayam lokal.
Hasil penelitian ini memberikan dasar ilmiah untuk evaluasi reproduksi pejantan ayam Kokok Balenggek (KBR) dengan menunjukkan bahwa testosteron plasma saja belum cukup sebagai prediktor kualitas semen. Temuan ini bermanfaat untuk menyusun strategi seleksi dan manajemen pejantan yang lebih akurat dengan mengombinasikan parameter semen dan indikator fisiologis lainnya, sehingga mendukung peningkatan efisiensi inseminasi buatan dan produktivitas pembibitan. Selain itu, data baseline kualitas semen dan profil hormon pada KBR dapat digunakan sebagai rujukan dalam program konservasi dan pemuliaan ayam lokal Indonesia, termasuk penguatan plasma nutfah serta pengembangan penelitian lanjutan terkait biomarker fertilitas yang lebih spesifik.