
Penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan tenaga kependidikan di Universitas Andalas masih menghadapi beberapa tantangan yang berkaitan dengan prinsip Strategic Human Resource Management (SHRM). Dari total 1.774 tenaga kependidikan, hanya sekitar 32% yang berstatus pegawai tetap yang terdiri dari PNS, P3K, dan pegawai tetap non ASN. Sebaliknya, sekitar 68% merupakan tenaga kontrak yang terdiri dari pegawai tidak tetap dan pekerja harian lepas. Kondisi ini menunjukkan tingginya ketergantungan institusi pada tenaga kerja kontrak. Ketergantungan tersebut menimbulkan beberapa konsekuensi dalam pengelolaan organisasi. Pertama, potensi tingkat pergantian pegawai menjadi lebih tinggi karena tenaga kontrak cenderung memiliki stabilitas kerja yang lebih rendah. Kedua, distribusi tenaga kependidikan antar unit kerja belum merata sehingga beberapa unit mengalami beban kerja yang lebih besar dibanding unit lainnya. Ketiga, tingginya mobilitas tenaga kontrak berpotensi melemahkan institutional memory atau keberlanjutan pengetahuan organisasi. Selain itu, masih terdapat keterbatasan dalam ketersediaan tenaga administrasi pada beberapa unit serta akses pelatihan yang belum merata. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengelolaan sumber daya manusia belum sepenuhnya menempatkan tenaga kependidikan sebagai aset strategis organisasi. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan dan pemetaan SDM yang lebih sistematis untuk meningkatkan stabilitas tenaga kerja, pemerataan distribusi pegawai, serta efektivitas layanan administrasi dalam tata kelola perguruan tinggi negeri berbadan hukum.
Penelitian ini memberikan manfaat praktis bagi pengelolaan tenaga kependidikan di perguruan tinggi. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai dasar bagi pimpinan universitas untuk menyusun perencanaan dan pemetaan tenaga kependidikan secara lebih tepat sesuai kebutuhan setiap unit kerja. Dengan pemetaan yang lebih jelas, distribusi pegawai dapat dilakukan secara lebih merata sehingga beban kerja menjadi lebih seimbang. Penelitian ini juga dapat membantu institusi dalam mengevaluasi komposisi pegawai tetap dan tenaga kontrak. Informasi tersebut penting untuk merumuskan kebijakan yang dapat meningkatkan stabilitas tenaga kerja serta mengurangi ketergantungan pada tenaga kontrak. Selain itu, temuan penelitian dapat menjadi acuan dalam merancang program pengembangan kompetensi tenaga kependidikan melalui pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan jabatan. Upaya ini dapat meningkatkan kualitas dan efektivitas layanan administrasi di perguruan tinggi. Secara lebih luas, penelitian ini dapat menjadi referensi bagi perguruan tinggi negeri berbadan hukum dalam mengelola sumber daya manusia secara lebih strategis, sehingga mendukung tata kelola institusi yang lebih efektif dan berkelanjutan.