
enelitian ini mengkaji penyebab hujan ekstrem di Sumatera Barat yang terjadi pada musim kemarau, periode yang umumnya relatif kering di wilayah tersebut. Studi ini diawali dengan analisis variabilitas spasial-temporal, tren, dan kejadian hujan ekstrem di Indonesia menggunakan data Climate Hazards Group InfraRed Precipitation with Stations (CHIRPS) selama 43 tahun (1981–2023). Hasil analisis menunjukkan bahwa variabilitas hujan di Sumatera relatif lebih rendah dibandingkan beberapa wilayah lain di Indonesia, seperti Sulawesi, Maluku, dan Papua, yang memiliki variabilitas antar-tahunan lebih tinggi. Meskipun demikian, kejadian hujan ekstrem masih dapat terjadi di wilayah dengan variabilitas hujan yang relatif rendah. Selain itu, analisis tren menunjukkan peningkatan curah hujan dan kejadian hujan ekstrem di beberapa wilayah Indonesia dalam beberapa dekade terakhir. Berdasarkan hasil tersebut, dilakukan analisis komprehensif terhadap peristiwa hujan ekstrem pada 13–14 Juli 2023 di Sumatera Barat. Analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasi mekanisme atmosfer yang memicu kejadian tersebut, termasuk peran dinamika atmosfer skala besar, kondisi regional, serta pengaruh gelombang atmosfer terhadap pembentukan hujan ekstrem.
Hasil penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai mekanisme terjadinya hujan ekstrem di Sumatera Barat pada musim kemarau yang umumnya kering. Informasi ini penting untuk meningkatkan kemampuan prediksi kejadian cuaca ekstrem serta mendukung sistem peringatan dini bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor. Selain itu, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam merumuskan strategi mitigasi dan adaptasi terhadap risiko bencana yang dipicu oleh variabilitas dan perubahan iklim.