
Penelitian ini menemukan bahwa pengelolaan bencana pariwisata (Tourism Disaster Management/TDM) di Indonesia masih lemah, terutama karena keterbatasan model, koordinasi lintas-aktor, dan minimnya keterlibatan lokal dalam proses mitigasi hingga pemulihan. Dari 205 dokumen yang ditelaah dan 78 artikel Scopus yang dianalisis melalui bibliometrik dan SLR, penelitian ini menegaskan bahwa kolaborasi horizontal dan jaringan multipihak merupakan kunci untuk memperkuat TDM. Upaya manajemen bencana selama ini masih bersifat vertikal dan sentralistik, sehingga menghambat inovasi daerah serta mengurangi efektivitas respons. Temuan lain menunjukkan bahwa riset TDM di Indonesia masih terbatas dan terfokus pada isu tsunami, gempa, dan kawasan tertentu seperti Lombok dan Bali, sementara topik seperti rekonstruksi, konservasi, dan krisis manajemen masih jarang dibahas. Penelitian ini kemudian menawarkan kerangka baru TDM yang menekankan empat tahap—pra-bencana, tanggap darurat, pemulihan, dan adaptasi—dengan penekanan pada kejelasan peran aktor, komunikasi, kepercayaan, dan kesetaraan dalam kolaborasi. Secara keseluruhan, studi ini menegaskan pentingnya membangun sistem kolaboratif yang inklusif, adaptif, dan berorientasi jaringan, sehingga destinasi pariwisata di Indonesia lebih siap menghadapi bencana di masa depan.
Penelitian ini memiliki potensi kemanfaatan yang signifikan bagi pengembangan pengelolaan bencana pariwisata (TDM) di Indonesia. Pertama, kerangka baru TDM yang ditawarkan dapat menjadi panduan strategis bagi pemerintah pusat dan daerah untuk memperbaiki alur koordinasi, memperjelas peran aktor, serta memperkuat sistem respons bencana secara lebih adaptif dan berbasis jaringan. Kerangka ini membantu mengurangi ketergantungan pada model vertikal yang selama ini menghambat kreativitas daerah dalam mitigasi dan pemulihan. Kedua, penelitian ini memberi dasar kuat bagi pelaku industri pariwisata, seperti pengelola destinasi, usaha pariwisata, hingga komunitas lokal, untuk meningkatkan kesiapsiagaan melalui kolaborasi yang lebih setara, transparan, dan berbasis kepercayaan. Dengan keterlibatan aktif, destinasi dapat membangun resiliensi yang berkelanjutan, sehingga mampu pulih lebih cepat setelah bencana. Ketiga, hasil bibliometrik dan identifikasi gap riset membuka peluang bagi peneliti dan akademisi untuk mengembangkan kajian baru pada tema-tema yang masih jarang dibahas, seperti rekonstruksi, konservasi, serta manajemen krisis yang lebih holistik. Secara keseluruhan, penelitian ini berpotensi mendorong terciptanya kebijakan TDM yang lebih inklusif, efektif, dan responsif, sekaligus meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia di tengah meningkatnya risiko bencana.