
Penelitian ini menunjukkan potensi antagonistik jamur filosfer yang diisolasi dari beberapa tanaman obat terhadap patogen Colletotrichum sp., penyebab penyakit antraknosa pada tanaman cabai (Capsicum annuum L.). Sebanyak 12 isolat jamur filosfer yang diperoleh dari permukaan daun lima tanaman obat diuji menggunakan metode kultur ganda (dual culture). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh isolat yang diuji mampu menghambat pertumbuhan Colletotrichum sp., yang menunjukkan adanya aktivitas antagonistik terhadap patogen tersebut. Mekanisme penghambatan yang diamati meliputi kompetisi ruang dan nutrisi serta antibiosis. Tingkat daya hambat yang dihasilkan bervariasi antar isolat, namun secara umum berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi. Di antara isolat yang diuji, Trichoderma sp. menunjukkan aktivitas antagonistik tertinggi dengan persentase penghambatan sebesar 92,78% yang termasuk dalam kategori sangat tinggi. Hasil karakterisasi secara makroskopis dan mikroskopis juga mendukung identifikasi beberapa isolat yang termasuk ke dalam genus Trichoderma, Aspergillus, Penicillium. Temuan ini menunjukkan bahwa jamur filosfer dari tanaman obat memiliki potensi besar sebagai agen pengendali hayati yang ramah lingkungan. Oleh karena itu, isolat jamur tersebut berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai biofungisida dalam pengendalian penyakit antraknosa pada tanaman cabai secara berkelanjutan.
1. Sebagai agen pengendali hayati (biocontrol agent) Isolat jamur filosfer, terutama Trichoderma sp., dapat dimanfaatkan sebagai agen pengendali hayati untuk mengendalikan penyakit antraknosa pada cabai yang disebabkan oleh Colletotrichum sp.. Hal ini karena isolat tersebut menunjukkan daya hambat yang sangat tinggi (92.78%) terhadap patogen. 2. Alternatif pengganti fungisida kimia Jamur filosfer dari tanaman obat dapat menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan fungisida kimia yang selama ini digunakan petani, sehingga dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. 3. Pengembangan biofungisida Isolat dengan aktivitas antagonis tinggi, seperti Trichoderma sp., Aspergillus sp., dan Penicillium sp., berpotensi dikembangkan lebih lanjut menjadi produk biofungisida untuk pengendalian penyakit tanaman cabai secara berkelanjutan. 4. Pemanfaatan keanekaragaman mikroba dari tanaman obat Penelitian ini menunjukkan bahwa tanaman obat merupakan sumber mikroorganisme potensial yang dapat dimanfaatkan dalam bioteknologi pertanian, khususnya dalam pengendalian penyakit tanaman.