
Berdasarkan pengujian terhadap enam metode penentuan mass eruption rate (MER), diperoleh bahwa setiap formulasi MER sangat dipengaruhi oleh kebutuhan data ketinggian kolom erupsi. Semakin tinggi kolom erupsi dari kawah, semakin besar nilai MER yang dihasilkan. Secara umum, metode MER dapat dibedakan menjadi formulasi yang mempertimbangkan pengaruh kecepatan angin, seperti Degruyter dan Bonadonna (2012) serta Woodhouse dkk. (2013), dan formulasi yang tidak memasukkan pengaruh angin, seperti Mastin dkk. (2009), Sparks (1986), serta Wilson dan Walker (1987). Aplikasi formulasi tersebut pada erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki menggunakan HYSPLIT menunjukkan bahwa model mampu merepresentasikan arah sebaran abu vulkanik dengan cukup baik, dengan deviasi arah tidak lebih dari 15° terhadap citra Sentinel-5P. Namun, perbandingan antarformulasi menunjukkan kesenjangan estimasi yang sangat besar, mencapai 9–11 orde besaran. Perbedaan ini terutama disebabkan oleh variasi kerangka fisik tiap formulasi, khususnya dalam memperhitungkan pengaruh angin dan proses entrainment. Oleh karena itu, pemilihan formulasi MER perlu dilakukan secara adaptif sesuai kondisi erupsi agar hasil simulasi mendukung keputusan mitigasi yang lebih akurat.
Penelitian ini memiliki beberapa potensi manfaat penting bagi penguatan mitigasi bencana vulkanik. Pertama, penelitian ini dapat meningkatkan akurasi sistem peringatan dini abu vulkanik dengan menyediakan dasar pemilihan formulasi Mass Eruption Rate (MER) yang lebih sesuai dengan kondisi meteorologi saat erupsi sehingga dapat dimanfaatkan oleh lembaga seperti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi untuk meningkatkan ketepatan dan kecepatan penyampaian peringatan dini aktivitas vulkanik. Kedua, penelitian ini juga mendukung perlindungan keselamatan penerbangan. Ancaman abu vulkanik terhadap penerbangan, di mana hasil simulasi menggunakan HYSPLIT yang menunjukkan kesesuaian arah dispersi dengan data dari Sentinel-5P menunjukkan potensi pemanfaatan model ini untuk membantu penentuan zona berbahaya atau no fly zone secara lebih akurat. Ketiga, penelitian ini juga bermanfaat dalam mitigasi dampak kesehatan dan kualitas udara dengan kemampuan model memprediksi sebaran abu hingga ratusan kilometer dari sumber erupsi dapat digunakan sebagai dasar penyampaian informasi kualitas udara dan perlindungan kesehatan masyarakat. Keempat, model prediksi dispersi yang lebih akurat dapat membantu mengurangi kerugian ekonomi, khususnya pada sektor pertanian dan infrastruktur yang sering terdampak hujan abu. Informasi wilayah yang berpotensi terkena abu memungkinkan langkah mitigasi dilakukan lebih awal. Terakhir, dari sisi ilmiah penelitian dapat memberikan kontribusi metodologis bagi pengembangan pemodelan dispersi abu di wilayah tropis dengan memberikan dasar empiris yang dapat digunakan sebagai referensi bagi penelitian serupa di kawasan tropis dengan karakteristik atmosfer yang kompleks seperti Indonesia.