
Deteksi dini kanker serviks merupakan upaya penting untuk menemukan lesi prakanker sehingga dapat mencegah perkembangan menjadi kanker serviks. Namun, sekitar 70% kasus kanker serviks di Indonesia masih ditemukan pada stadium lanjut, yang menunjukkan rendahnya cakupan skrining dan berkontribusi terhadap tingginya angka kematian akibat kanker serviks. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan deteksi dini kanker serviks pada wanita usia subur (WUS) di Indonesia. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan memanfaatkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023. Variabel yang dianalisis meliputi usia, pendidikan, kepemilikan jaminan kesehatan, paparan informasi, status pekerjaan, dan paritas. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 8,5% WUS yang pernah melakukan deteksi dini kanker serviks, sementara 91,5% belum pernah melakukannya. Analisis multivariat menunjukkan bahwa seluruh variabel yang diteliti berhubungan signifikan dengan deteksi dini kanker serviks. Paparan informasi merupakan faktor yang paling dominan (POR=2,365; 95%CI: 2,102–2,661), diikuti oleh pendidikan tinggi (POR=1,868), kepemilikan jaminan kesehatan (POR=1,483), status pekerjaan (POR=1,201), dan paritas 1–3 anak (POR=1,148). Sebaliknya, WUS pada kelompok usia risiko rendah cenderung lebih rendah memanfaatkan layanan skrining dibandingkan kelompok usia risiko tinggi. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan strategi komunikasi, edukasi kesehatan, dan perluasan akses informasi untuk meningkatkan partisipasi deteksi dini kanker serviks di Indonesia.
Penelitian ini memiliki potensi kemanfaatan yang besar bagi pengembangan program pencegahan dan pengendalian kanker serviks di Indonesia. Temuan bahwa paparan informasi merupakan faktor yang paling dominan dalam memengaruhi perilaku deteksi dini kanker serviks memberikan dasar ilmiah bagi pemerintah, dinas kesehatan, puskesmas, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat strategi komunikasi, informasi, dan edukasi kesehatan reproduksi kepada wanita usia subur. Selain itu, identifikasi faktor-faktor lain seperti tingkat pendidikan, kepemilikan jaminan kesehatan, status pekerjaan, usia, dan paritas dapat menjadi dasar dalam penyusunan program intervensi yang lebih tepat sasaran sesuai karakteristik kelompok sasaran. Hasil penelitian ini juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan dalam perencanaan kebijakan peningkatan cakupan skrining kanker serviks melalui metode IVA maupun Pap smear, khususnya pada kelompok wanita yang memiliki risiko rendah untuk memanfaatkan layanan deteksi dini. Bagi fasilitas pelayanan kesehatan, temuan ini dapat digunakan untuk mengembangkan strategi promosi kesehatan yang lebih efektif, termasuk pemanfaatan media digital, kader kesehatan, dan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Secara akademik, penelitian ini memperkaya bukti ilmiah mengenai determinan perilaku deteksi dini kanker serviks pada tingkat nasional dengan menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia Tahun 2023. Hasil penelitian diharapkan menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya serta mendukung pencapaian target eliminasi kanker serviks dan peningkatan derajat kesehatan perempuan Indonesia secara berkelanjutan.