
Berdasarkan hasil analisis bioakustik, ditemukan bahwa karakteristik suara kokok Ayam Kokok Balenggek (AKB) menunjukkan variasi yang tinggi pada frekuensi kokok, jumlah lenggek, serta jumlah suku kata. Keberagaman fenotipe vokal ini secara signifikan dipengaruhi oleh profil hormonal dan faktor usia ayam. Hormon testosteron terbukti berkorelasi positif dan signifikan terhadap peningkatan jumlah lenggek (r = 0,48) dan jumlah suku kata (r = 0,46) yang menegaskan peran penting androgen dalam meregulasi perilaku vokalisasi dan perkembangan organ syrinx pada unggas jantan. Sebaliknya, hormon melatonin menunjukkan korelasi negatif yang signifikan terhadap jumlah lenggek (r = -0,58) dan jumlah suku kata (r = -0,55), yang mengindikasikan adanya mekanisme kontrol sirkadian yang menekan intensitas vokalisasi pada kondisi fisiologis tertentu. Lebih lanjut, faktor usia turut memengaruhi performa ini, di mana ayam dewasa mencapai puncak profil hormonal yang berbanding lurus dengan optimalnya kualitas dan performa vokal dibandingkan dengan ayam muda atau tua. Interaksi neuroendokrin ini memicu hipertrofi otot siringeal secara periodik, sehingga memodulasi efisiensi neuromuskular dan amplitudo udara saat bernyanyi. Dinamika tersebut berimplikasi pada kompleksitas struktur akustik kokok, yang tidak hanya berfungsi sebagai bentuk sinyal teritorial terintegrasi, melainkan juga indikator kebugaran genetik (fitness) berbasis plastisitas fenotipe vokal spesifik plasma nutfah lokal ini.
Temuan ini memberikan kontribusi penting bagi strategi pemuliaan dan pelestarian ayam lokal Indonesia. Pemetaan hubungan antara regulasi hormonal dan karakteristik vokalisasi ini dapat diaplikasikan sebagai instrumen seleksi ilmiah berbasis biomarker untuk mengidentifikasi pejantan AKB unggul, menggantikan metode konvensional yang subjektif. Selain itu, penelitian ini tidak hanya memperkaya keilmuan bidang kajian bioakustik unggas lokal yang masih terbatas di Indonesia, tetapi juga menjadi landasan krusial bagi program konservasi plasma nutfah AKB guna mencegah erosi genetik akibat seleksi yang tidak terarah. Data yang dihasilkan dalam penelitian ini dapat dieksplorasi lebih lanjut sebagai referensi dasar bagi studi fungsional yang mengintegrasikan aspek neuroendokrinologi, genetika molekuler, dan ekspresi gen yang mengontrol performa vokalisasi pada unggas