
Homalomena rubescens merupakan tanaman yang diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder berpotensi sebagai agen antibakteri dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon eksplan tunas H. rubescens terhadap perlakuan kualitas cahaya dan menentukan kualitas cahaya terbaik untuk meningkatkan produksi metabolit sekunder. Perlakuan kualitas cahaya yang diberikan pada penelitian ini adalah, kondisi gelap 24 jam, LED putih, LED biru dan LED merah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemaparan LED merah menghasilkan jumlah tunas terbanyak, yaitu rata-rata 6,50 tunas, dengan waktu kemunculan tunas tercepat pada hari ke-6,50. Pemaparan LED biru menghasilkan tunas utama tertinggi sebesar 2,66 cm dan tunas baru sebesar 0,38 cm. Perlakuan cahaya LED mampu menghasilkan beberapa senyawa metabolit sekunder, dengan LED putih mengandung flavonoid dan fenol, LED biru mengandung flavonoid, fenol, dan terpenoid, serta LED merah mengandung fenol dan terpenoid. Pada perlakuan gelap tidak terdeteksi adanya metabolit sekunder. Pemaparam cahaya LED merah memiliki peran penting dalam meningkatkan multiplikasi tunas. Cahaya LED biru memiliki peran penting dalam meningkatkan tinggi tunas dan meghasilkan metabolit sekunder pada H. rubescens.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, cahaya berpotensi untuk menghasilkan metabolit sekunder spesifik pada tanaman secara in vitro, tergantung dengan kualitas cahaya yang digunakan, karena antara panjang gelombang pendek dan panjang gelombang panjang terdapat perbedaan respon untuk pengakumulasian metabolit sekunder. Selanjutnya dengan penelitian ini, penggalian pengayaan metabolit sekunder pada Homalomena pendula dapat dilakukan melalui rekayasa lingkungan tumbuh terutama pencahayaan. dengan diketahuinya kualitas cahaya terbaik dalam memproduksi metabolit sekunder spesifik pada tumbuhan ini, diharapkan dapat mendorong pemanfaatan teknik ini dalam pengayaan metabolit sebelum dilakukan ekstraksi terhadap tanaman ini.