
Sapi (Bos taurus) sering terinfeksi parasit, baik ektoparasit maupun endoparasit, terutama dalam lingkungan yang kotor, becek, dan kurang sinar matahari. Penelitian di Lubuk Minturun, Padang, Sumatra Barat, mengidentifikasi dua spesies ektoparasit dari filum Arthropoda, yaitu Haemaphysalis longicornis dan Rhipicephalus microplus. Selain itu, ditemukan enam jenis endoparasit, yakni Ascaris lumbricoides, Eimeria sp., Paramphistomum sp., Trichuris sp., Giardia lamblia, dan Toxocara vitulorum. Toxocara vitulorum menunjukkan prevalensi tertinggi (63,51%), mengindikasikan bahwa parasit ini menjadi ancaman utama pada sapi. Parasit ini umum pada anak sapi, terutama di daerah tropis, dan berkembang dengan baik di iklim lembap. Infeksi dapat diperburuk dengan transmisi vertikal dari induk ke anak melalui kolostrum. Sebaliknya, Giardia lamblia memiliki prevalensi terendah (1,36%), yang kemungkinan disebabkan oleh kebutuhan parasit ini akan kondisi lingkungan spesifik, seperti air terkontaminasi. Ascaris lumbricoides (22,97%) dan Eimeria sp. (5,40%) menunjukkan prevalensi sedang, mencerminkan sanitasi yang buruk dan kurangnya kontrol antiparasit rutin. Pengetahuan mengenai parasit ini sangat penting untuk pencegahan penyakit zoonosis dan untuk meningkatkan pengelolaan kesehatan ternak guna mengurangi kerugian ekonomi dan kesehatan.
Secara keseluruhan, temuan ini menekankan pentingnya pengelolaan lingkungan dan penerapan program pengendalian parasit secara teratur untuk menurunkan prevalensi ektoparasit maupun endoparasit pada sapi. Desain kandang yang memungkinkan paparan sinar matahari yang cukup dan perbaikan manajemen kebersihan menjadi langkah penting dalam pencegahan dan pengendalian infeksi parasit. Mempelajari parasit pada sapi kurban sangat penting untuk pencegahan penyakit zoonosis yang dapat menular ke manusia, seperti Toxocara vitulorum dan Giardia lamblia. Selain itu, pengetahuan mengenai parasit ini membantu meningkatkan kesehatan sapi, yang berdampak pada produktivitas dan mengurangi kerugian ekonomi akibat penurunan pertumbuhan atau kualitas hewan. Dengan memahami faktor-faktor yang mendukung perkembangan parasit, peternak dapat melakukan perbaikan dalam pengelolaan lingkungan peternakan, seperti meningkatkan kebersihan kandang dan memastikan paparan sinar matahari yang cukup. Langkah-langkah tersebut tidak hanya penting untuk kesehatan sapi, tetapi juga untuk memastikan keamanan konsumsi daging sapi oleh manusia. Penelitian ini juga memberikan dasar untuk penyuluhan kepada peternak tentang pentingnya pengendalian parasit dan manajemen kandang yang baik, yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan hewan dan kualitas produk peternakan.