
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara stres, depresi, kecemasan, dan academic burnout pada mahasiswa program studi Keperawatan Universitas Andalas. Data demografi menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah perempuan (94,8%) dengan usia dewasa awal (64%) dan sebaran yang merata di berbagai tahun akademik. Hasil analisis korelasi menunjukkan hubungan signifikan antara stres, depresi, dan kecemasan dengan academic burnout, dengan nilai korelasi berturut-turut 0.377, 0.337, dan 0.284. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat stres, depresi, dan kecemasan, semakin tinggi pula tingkat burnout yang dialami mahasiswa. Analisis regresi menunjukkan bahwa stres memiliki pengaruh terbesar terhadap academic burnout (B = 1.484, p < 0.001), diikuti oleh depresi (B = 1.156, p = 0.002). Faktor tahun akademik tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan academic burnout. Model regresi akhir menjelaskan 16,8% variabilitas dalam academic burnout mahasiswa. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa stres dan depresi berkontribusi signifikan terhadap academic burnout. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan strategi yang efektif dalam mengelola stres dan depresi di kalangan mahasiswa keperawatan untuk mencegah peningkatan burnout yang dapat memengaruhi kualitas pendidikan dan kesejahteraan mereka.
Potensi kemanfaatan dari penelitian ini adalah sebagai dasar untuk merancang program intervensi yang dapat membantu mengurangi tingkat stres, depresi, dan kecemasan pada mahasiswa, khususnya di program studi Keperawatan. Dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi academic burnout, hasil penelitian ini dapat digunakan oleh pihak universitas dan pengelola program studi untuk mengembangkan strategi pembinaan dan dukungan psikologis, serta meningkatkan kesejahteraan mental mahasiswa. Penelitian ini juga memberikan wawasan penting bagi pengembangan kurikulum dan pengelolaan beban akademik agar mahasiswa dapat mengelola tekanan akademik dengan lebih baik, serta mencegah dampak negatif yang lebih serius terkait burnout akademik.