
Perubahan penggunaan lahan yang tidak memperhatikan aspek tata ruang dan lingkungan akan memberikan dampak yang serius bagi lingkungan, salah satu akibatnya adalah erosi. Usaha mengurangi erosi yang tinggi dapat dilakukan dengan melakukan perencanaan penggunaan lahan. Penggunaan lahan di Nagari Lawang beragam yaitu hutan rimba, semak belukar, tegalan/ladang, pemukiman,sawah dan empang, dimana penggunaan lahan sangat berpengaruh terhap besar erosi yang terjadi pada suatu daerah. Besar erosi dihitung menggunakan metode USLE (Universal Soil Loss Equation) dengan mempertimbangkan nilai erosivitas hujan, erodibilitas tanah, kemiringan dan panjang lereng dan pengelolaan tanaman dan tindakan konservasi. Sebesar 47,29% dari luas lahan Nagari Lawang berada pada laju erosi diatas erosi toleransi dengan kategori ringan sampai sangat berat. Berdasarkan simulasi tata guna lahan, skenario perencanaan III dengan mengalokasikan penggunaan lahan tegalan/ladang menjadi kebun campuran dengan penanaman sesuai garis kontur dan penggunaan lahan semak belukar menjadi hutan campursari merupakan skenario terbaik karena dapat menurunkan erosi sebesar 39,05% dari erosi total Nagari Lawang. Penurunan erosi pada lahan yang dialihgunakan (tegalan/ladang dan semak belukar) mencapai 45,83% dari kondisi eksisting yaitu sebesar 2105,928 ton/ha/tahun. Tata guna lahan skenario terbaik dapat dijadikan acuan oleh pengambil kebijakan maupun masyarakat dalam menentukan tindakan pengelolaan lahan yang tepat di Nagari Lawang.
Tata guna lahan skenario terbaik yaitu mengubah penggunaan lahan tegalan/ladang menjadi kebun campuran dengan penanaman sesuai garis kontur dan penggunaan lahan semak belukar menjadi hutan campursari dapat dijadikan acuan oleh pengambil kebijakan maupun masyarakat dalam menentukan tindakan pengelolaan lahan yang tepat di Nagari Lawang.