
Kandungan senyawa bioaktif bayam merah (Amaranthus tricolor L.) dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan metode budidaya. Stres lingkungan, seperti ketersediaan nutrisi, cahaya, dan suhu, dapat mengubah jalur metabolisme tanaman, memengaruhi kandungan fenolik, flavonoid, dan pigmen yang berperan dalam bioaktivitasnya. Penelitian ini membandingkan diferensiasi metabolit bayam merah yang dibudidayakan secara konvensional dan hidroponik menggunakan pendekatan kemometrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bayam merah hidroponik memiliki pertumbuhan lebih baik, dengan tinggi tanaman mencapai 53 cm dibandingkan 33 cm pada metode konvensional. Uji fitokimia mengonfirmasi keberadaan senyawa fenolik, flavonoid, terpenoid, steroid, dan alkaloid pada kedua metode, meskipun intensitasnya bervariasi. Analisis spektrum UV-Visible dan FTIR menunjukkan pola penyerapan serupa dengan perbedaan intensitas, menandakan variasi kandungan senyawa aktif. Analisis PCA mengelompokkan sampel berdasarkan metode budidaya, dengan klasifikasi terbaik pada bagian daun. Spektroskopi FTIR lebih efektif dibandingkan UV-Visible dalam membedakan sampel. Penelitian ini menegaskan bahwa metode budidaya berpengaruh pada kandungan metabolit bayam merah. Analisis lanjutan dengan LC-MS/MS dan NMR diperlukan untuk identifikasi mendalam senyawa penanda, mendukung pemanfaatan bayam merah sebagai sumber antioksidan alami.
Penelitian ini berkontribusi dalam bidang kesehatan dengan mengungkap kandungan senyawa bioaktif bayam merah yang berpotensi sebagai antioksidan alami, membantu menangkal radikal bebas dan mendukung pola makan sehat. Selain itu, hasil penelitian dapat dimanfaatkan dalam industri pangan fungsional, farmasi, dan kosmetik. Dari segi pertanian, informasi ini membantu petani mengoptimalkan budidaya bayam merah. Secara akademik, penelitian ini memperkaya studi metabolomik dan membuka peluang kolaborasi riset lebih lanjut.