
Lahan gambut sering menyebabkan terjadinya kebakaran hutan dapat menimbulkan kabut asap yang mengandung senyawa berbahaya yaitu karbon dioksida (CO2). Gas CO2 merupakan penyumbang emisi terbesar ke udara dari hasil terjadinya kebakaran. Konsentrasi CO2 mencapai 90% dari total emisi pembakaran. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 107 Tahun 2015 batas ambang kadar CO2 di dalam ruangan tidak melibihi 1000 ppm. Tujuan penelitian ini memantau dan menanggulangi konsentrasi emisi CO2 dari kabut asap pada model kebakaran lahan gambut dengan menggunakan sistem fotobioreaktoryang dilengkapi sensor gas MQ-135. Sensor LM35 digunakan untuk pengukuran suhu agar menjaga kondisi mikroalga Chlorella vulgaris berkembang biak di dalam fotobioreaktor. Data dari sensor diproses menggunakan mikrokontroler Arduino Uno R3 dan ditampilkan melalui LCD. Data hasil pengujian konsentrasi CO2 dibandingkan dengan alat ukur standar Lutron MCH-383SD. Pengujian sistem keseluruhan dilakukan selama 1 jam dengan rentang waktu 5 menit. Hasil diperoleh pada saat kabut asap dari model kebakaran lahan gambut dialirkan pada ruangan yang belum diinstal sistem fotobioreaktor mikroalga, nilai CO2 yang terdeteksi 655,89 ppm turun menjadi 645,74 ppm. Sedangkan saat ruangan telah diinstal sistem fotobioreaktor mikroalga, nilai CO2 yang dideteksi 655,84 ppm turun menjadi 620,47 ppm. Berdasarkan dari hasil data yang diperoleh maka disimpulkan bahwa fotobioreaktor mikroalga dapat menanggulangi emisi CO2 yang dihasilkan dari kabut asap pada ruangan.
Potensi kemanfaatan riset sistem fotobioreaktor yang dilengkapi sensor gas MQ-135 dapat memantau dan memitigasi (menanggulangi) konsentrasi CO2 dari Kabut Asap pada Model Kebakaran Lahan Gambut