
Kebutuhan akan agen antimikroba baru didorong oleh krisis kesehatan di seluruh dunia yang disebabkan oleh bakteri yang resistan. Jatropha multifida L. merupakan tanaman etnomedisinal yang banyak digunakan di Sumatera Barat, Indonesia. Penelitian ini meneliti sifat antibakteri senyawa yang diekstrak dari jamur endofit yang diisolasi dari akar, kulit kayu, dan daun tanaman, termasuk mengidentifikasi jamur yang unggul dan profil LC/MS-MS metabolit sekundernya. Empat belas jamur endofit berhasil diisolasi dari berbagai bagian menggunakan metode penanaman langsung dan penuangan. Setelah empat hingga enam minggu budidaya dalam media beras, isolat jamur diekstraksi menggunakan etil asetat. Aktivitas antibakteri setiap ekstrak etil asetat jamur dievaluasi menggunakan metode difusi Kirby-Bauer terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Isolat JMB4 dan JMD3 dari jamur endofit menunjukkan hasil yang menjanjikan sebagai agen antibakteri dan menunjukkan diameter penghambatan yang nyata, menurut hasil pengukuran zona penghambatan. Jamur JMB4 dan JMD3 telah diklasifikasikan sebagai Fusarium incarnatum dan Fusarium oxysporum melalui metode identifikasi makroskopis, mikroskopis, dan molekuler. Analisis LC-MS/MS dari ekstrak JMD3 mengungkapkan bahwa puncak dominan sesuai dengan rumus molekul C22H21NO4 dan secara tentatif diidentifikasi sebagai equisetin. Temuan tersebut menunjukkan bahwa tanaman J. multifida L. mengandung jamur endofit yang dapat mensintesis senyawa antibakteri.
Potensi manfaat riset ini meliputi penemuan sumber antibiotik baru dari jamur endofit pada tanaman Jatropha multifida L. Selain itu, riset ini memberikan informasi terkait adanya senyawa antibiotik yang berpotensi sehingga dapat dikembangkan menjadi obat untuk mengatasi masalah resistensi.