
Neuropati diabetik adalah komplikasi serius dari diabetes mellitus, sementara obat sintetis konvensional untuk mengatasinya dapat memiliki efek samping yang tidak diinginkan. Studi ini mengevaluasi potensi talas Mentawai (Colocasia esculenta var. Mentawai) sebagai pangan fungsional untuk mengelola neuropati diabetik. Tikus jantan dewasa digunakan dan dibagi menjadi lima kelompok: kelompok kontrol (tikus sehat dengan diet standar), kelompok diabetik (tikus diabetik yang diinduksi alloxan dengan diet standar), dan tiga kelompok diabetik yang menerima diet dengan 15% tepung utuh, serat, atau pati dari talas Mentawai. Setelah 28 hari, kadar glukosa darah, fungsi sensorik dan motorik, kadar malondialdehid (MDA), dan histopatologi otak kecil dievaluasi. Hasil menunjukkan bahwa serat dari talas Mentawai secara signifikan menurunkan kadar glukosa darah dan memperbaiki fungsi sensorik serta motorik pada tikus diabetik. Serat ini juga menurunkan kadar MDA di jaringan otak dan mengurangi degenerasi sel Purkinje di otak kecil. Sebaliknya, tepung utuh dan pati dari talas Mentawai memberikan manfaat minimal, dengan hanya pati yang memperbaiki fungsi motorik. Oleh karena itu, di antara berbagai persiapan umbi talas Mentawai, ekstrak serat adalah yang paling efektif dalam mengurangi gejala neuropati diabetik.
Pengembangan obat neuropati diabetes berbahan umbi talas mentawai