
Penelitian ini menemukan bahwa penyuluh agama di LPP Kelas IIB Padang menggunakan pendekatan komunikasi persuasif dengan memanfaatkan dua jalur elaborasi: rute sentral dan rute periferal. Rute sentral digunakan melalui penyampaian materi yang relevan, logis, dan berbasis dalil agama, sementara rute periferal melibatkan pendekatan emosional, penggunaan humor, bahasa lokal, serta komunikasi interpersonal yang hangat dan mendalam. Penyuluh agama juga menunjukkan kredibilitas tinggi dari segi penampilan, latar belakang pendidikan keagamaan, serta pengalaman membina. Penerimaan pesan oleh narapidana berlangsung secara bertahap dan dinamis, sangat dipengaruhi oleh motivasi, kapasitas kognitif, kesiapan mental, dan pengalaman pribadi masing-masing narapidana. Sebagian narapidana menunjukkan perubahan positif dalam hal spiritualitas, sikap, perilaku, dan aspek emosional, seperti meningkatnya semangat ibadah dan kontrol diri. Namun, efektivitas komunikasi periferal cenderung bersifat sementara apabila tidak diarahkan ke proses pemaknaan yang lebih mendalam. Oleh karena itu, strategi pembinaan perlu dirancang secara adaptif, tersegmentasi, dan berkelanjutan, termasuk melibatkan kolaborasi dengan psikolog atau konselor adiksi, guna mengoptimalkan perubahan jangka panjang dan menurunkan angka residivisme narapidana narkoba secara signifikan.
Penelitian ini memiliki potensi kemanfaatan yang signifikan, baik secara teoretis maupun praktis. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya kajian ilmu komunikasi, khususnya dalam konteks komunikasi persuasif di lingkungan pemasyarakatan, dengan mengaplikasikan teori kemungkinan elaborasi (Elaboration Likelihood Theory) untuk menganalisis strategi dan efektivitas komunikasi penyuluh agama. Ini dapat menjadi referensi bagi akademisi atau peneliti yang tertarik pada pengembangan komunikasi dakwah, rehabilitasi sosial, dan komunikasi interpersonal berbasis pendekatan psikologis. Secara praktis, temuan dalam penelitian ini dapat menjadi acuan bagi lembaga pemasyarakatan, penyuluh agama, dan Kementerian Agama dalam merancang program pembinaan keagamaan yang lebih adaptif dan efektif. Penelitian ini juga menekankan pentingnya pendekatan personal dan emosional yang dikombinasikan dengan materi substantif untuk mencapai perubahan perilaku yang lebih mendalam. Lebih lanjut, hasil penelitian dapat mendorong pengembangan kebijakan yang mendukung pemisahan program pembinaan sesuai jenis kasus narapidana, serta pelibatan tenaga ahli seperti psikolog atau konselor adiksi guna memperkuat rehabilitasi narapidana kasus narkoba secara holistik dan berkelanjutan.