
Ulat grayak (Spodoptera frugiperda) merupakan hama pada tanaman jagung, Salah satu alternatif pengendalian adalah menggunakan cendawan Trichoderma asperellum yang dilaporkan dapat bersifat entomopatogen dan membantu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap hama. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari virulensi T. asperellum. terhadap S. frugiperda, menentukan kemampuan kolonisasi T. asperellum pada jagung, mengevaluasi pengaruh T. asperellum terhadap preferensi oviposisi imago S. frugiperda pada jagung. mempelajari pengaruh kolonisasi T. asperellum pada jagung terhadap biologi S. frugiperda dan mengkarakterisasi senyawa metabolit pada jagung setelah introduksi T. asperellum. Perlakuan terdiri dari isolat T. asperellum A116, PC21, S2D11, SD324, AB2B3 dan aquades steril sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Isolat T. asperellum memiliki tingkat virulensi pada stadia telur sebesar 43,27 hingga 78,54% dan larva sebesar 32,00 hingga 54,67%, T. asperellum dapat hidup scara endofit pada daun tanaman jagung pada umur tanaman 21 hari setelah tanam dengan kemampuan kolonisasi sebesar 10%. introduksi T. asperellum pada tanaman jagung melalui perendaman benih tidak berpengaruh terhadap oviposisi imago S. frugiperda tetapi berpengaruh terhadap mortalitas dan perkembangan larva S. frugiperda dengan mortalitas sebesar 65,33 - 81,33%. Introduksi T. asperellum pada tanaman jagung juga berpengaruh terhadap kadar glukosa hingga 1,23% dan peningkatan kadar asam jasmonat hingga 8,01 µg / ml pada daun tanaman jagung.
Berdasarkan hasil yang didapat menunjukkan bahwa cendawan T. asperellum mampu mematikan telur S. frugiperda (bersifat ovisidal) sehingga dapat memutus siklus hidup hama lebih awal. Akibatnya jumlah larva yang muncul berkurang dan dapat menekan kerusakan tanaman secara lebih efektif. Selain mematikan telur, T. asperellum juga dapat mematikan larva. Aplikasi T. asperellum juga dapat dilakukan pada tanaman jagung. T. asperellum pada tanaman jagung dapat menghambat perkembangan populasi S. frugiperda. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk pengendalian hama secara hayati sehingga dapat mengurangi penggunaan pestisida sintetik dan menghasilkan pengendalian yang lebih ramah lingkungan