
Studi ini menemukan bahwa pengalaman komunikasi pegawai Generasi Z di birokrasi pemerintah Indonesia bersifat adaptif dan sangat dipengaruhi oleh perbedaan gaya komunikasi lintas generasi. Enam tema utama muncul. Pertama, komunikasi suportif dari atasan melalui keterbukaan, penjelasan yang jelas, dan umpan balik mempercepat proses adaptasi dan menumbuhkan rasa aman. Kedua, interaksi informal dengan pegawai Generasi Y mempermudah kolaborasi karena gaya komunikasi yang lebih cair dan dekat secara usia. Ketiga, komunikasi dengan Generasi X cenderung lebih formal dan beretika untuk menunjukkan rasa hormat pada hierarki. Keempat, terdapat kesenjangan komunikasi dengan atasan, terutama akibat instruksi yang tidak jelas, umpan balik minim, dan perbedaan preferensi media komunikasi. Kelima, humor yang tidak tepat dari senior menimbulkan ketidaknyamanan bagi pegawai Gen Z. Keenam, pegawai Gen Z menggunakan strategi penyesuaian komunikasi memilih kanal, menyesuaikan bahasa, dan mempertimbangkan situasi untuk menjaga keharmonisan. Secara keseluruhan, komunikasi dipahami sebagai mekanisme penting untuk membangun makna, identitas profesional, dan hubungan kerja dalam birokrasi multigenerasi.
1. Memperkaya teori komunikasi lintas generasi dalam konteks birokrasi Indonesia dan menambahkan perspektif baru tentang adaptasi komunikasi di lingkungan birokrasi. 2. Menjadi dasar perbaikan strategi komunikasi internal, terutama terkait gaya komunikasi yang sesuai bagi pegawai Gen Z. 3. Meningkatkan kualitas supervisi dan umpan balik, karena pimpinan dapat memahami preferensi komunikasi generasi muda. 4. Mendukung penyusunan pelatihan komunikasi lintas generasi, termasuk etika humor, pemilihan media, dan penyampaian instruksi. 5. Mengurangi potensi konflik antar generasi dengan memberikan wawasan tentang perbedaan gaya komunikasi dan cara menjembataninya.