
Penelitian ini menemukan bahwa pendidikan kesehatan terstruktur memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kapasitas keluarga dalam merawat pasien stroke serta penurunan risiko ulkus dekubitus. Keluarga yang menerima intervensi menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan perawatan secara bermakna dibandingkan kelompok kontrol (p<0,001). Peningkatan ini mencerminkan efektivitas pendekatan edukasi yang tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga aplikatif melalui demonstrasi dan praktik langsung, khususnya dalam perubahan posisi pasien, teknik pijat, dan identifikasi risiko luka tekan serta keterlibatan keluarga. Selain peningkatan kemampuan keluarga, penelitian ini juga menunjukkan penurunan risiko ulkus dekubitus yang signifikan pada pasien stroke di kelompok intervensi, sebagaimana ditunjukkan oleh peningkatan skor Braden (p<0,001). Temuan ini mengindikasikan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki keluarga dapat diterjemahkan ke dalam praktik perawatan preventif yang konsisten, baik selama perawatan di rumah sakit maupun di rumah. Sebaliknya, kelompok kontrol yang tidak mendapatkan pendidikan kesehatan terstruktur tidak menunjukkan perubahan bermakna baik pada aspek pengetahuan, keterampilan, maupun risiko ulkus dekubitus (p>0,05). Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan kesehatan terstruktur berbasis keluarga merupakan strategi yang efektif untuk mencegah komplikasi ulkus dekubitus pada pasien stroke dan layak diintegrasikan ke dalam praktik perawatan rutin.
Hasil penelitian ini memiliki kemanfaatan yang signifikan bagi praktik keperawatan, pelayanan kesehatan, dan pengembangan kebijakan kesehatan. Secara klinis, pendidikan kesehatan terstruktur terbukti meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam merawat pasien stroke, sehingga berkontribusi langsung terhadap penurunan risiko ulkus dekubitus. Temuan ini dapat dimanfaatkan sebagai dasar penguatan praktik keperawatan preventif berbasis keluarga, terutama pada pasien stroke dengan keterbatasan mobilitas. Bagi institusi pelayanan kesehatan, hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam pengembangan standar operasional prosedur (SOP) pendidikan keluarga serta integrasi program edukasi terstruktur ke dalam perawatan rutin pasien stroke, baik di rumah sakit maupun saat transisi perawatan ke rumah. Implementasi program ini berpotensi menurunkan angka komplikasi, lama rawat inap, dan beban biaya perawatan. Dari aspek akademik dan pengembangan ilmu keperawatan, penelitian ini memperkaya bukti ilmiah terkait efektivitas intervensi edukatif berbasis keluarga dalam pencegahan komplikasi stroke. Selain itu, hasil penelitian dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar, modul pendidikan, serta dasar pengembangan media edukasi seperti booklet dan video pembelajaran. Secara luas, temuan ini mendukung kebijakan promosi kesehatan yang menempatkan keluarga sebagai mitra utama dalam perawatan pasien penyakit kronis.