
Penelitian ini menyelidiki emisi ultra-low frequency (ULF) dan anomali total electron content (TEC) sebagai prekursor gempa bumi jangka pendek, dengan fokus pada gempa bumi di Sumatra. Penelitian ini secara komprehensif mengkaji 29 gempa bumi (2019–2020) serta enam gempa bumi dengan waktu yang berdekatan dan magnitudo >5 di Pulau Pagai, Mentawai, pada tahun 2020. Emisi ULF diidentifikasi melalui perhitungan rasio daya polarisasi menggunakan data geomagnet dari sistem akuisisi data magnetik (MAGDAS). Anomali TEC dianalisis berdasarkan deviasi koefisien korelasi, menggunakan data dari stasiun Sumatran GPS Array (SuGAr). Emisi ULF terdeteksi pada 25 dari 29 kejadian, dengan 15 kejadian hanya menunjukkan emisi ULF, sedangkan 10 lainnya menunjukkan anomali ULF dan TEC. Terdapat korelasi positif (R = 0,65) antara waktu timbulnya anomali ULF dan TEC, serta frekuensi prekursor yang lebih tinggi berkaitan dengan magnitudo gempa yang lebih besar. Studi di Mentawai mendukung hasil ini, dengan akurasi prediksi azimuth mencapai 97,8% dan prediksi magnitudo sebesar 98,13%. Penelitian ini menegaskan bahwa anomali ULF dan TEC merupakan prekursor gempa bumi yang dapat diandalkan, sehingga dapat meningkatkan metode prediksi gempa bumi di wilayah Sumatra.
Potensi manfaat riset ini meliputi peningkatan akurasi prediksi gempa bumi, yang memungkinkan sistem peringatan dini dan mitigasi risiko bencana. Selain itu, riset ini membantu pemahaman mekanisme gempa, mengembangkan teknologi pemantauan yang lebih baik, serta meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah dalam menghadapi gempa bumi di wilayah rawan.