%20Hidroponik%20dan%20Konvensional%20dengan%20Kombinasi%20Spektroskopi%20dan%20Metode%20Kemometrik.png&w=1080&q=75)
Penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan sistem budidaya, yaitu konvensional dan hidroponik, secara signifikan memengaruhi pertumbuhan, karakter fisik, dan profil metabolit bayam merah (Amaranthus tricolor L.). Secara fisik, budidaya hidroponik menghasilkan pertumbuhan yang lebih optimal, ditandai dengan tinggi tanaman yang lebih baik dan warna merah keunguan yang lebih intensif, yang sejalan dengan akumulasi pigmen dan metabolit bioaktif tertentu yang lebih tinggi. Analisis spektroskopi (UV-Vis dan FTIR) yang dikombinasikan dengan analisis kemometrik (PCA, PLS-DA, dan OPLS-DA) menunjukkan pemisahan yang konsisten dan jelas antara kelompok hidroponik dan konvensional, menegaskan bahwa metode budidaya secara nyata memodulasi metabolisme sekunder tanaman. Analisis ini juga mengungkap bahwa pengaruh perubahan lingkungan tanam lebih terlihat jelas pada jaringan fotosintetik (daun dan batang), sedangkan akar relatif tidak responsif. Temuan utama dari pendekatan metabolomik LC-HRMS adalah identifikasi lebih dari 450 senyawa teranotasi dan konfirmasi pemisahan profil metabolit yang kuat. Analisis ini berhasil mengidentifikasi biomarker metabolit kunci, di mana lingkungan hidroponik meningkatkan akumulasi metabolit hidrofobik seperti asam dokosatrienoat dan alkaloid (misalnya, Citridone B), sementara sampel konvensional menunjukkan peningkatan senyawa seperti NP-021018 dan Pseudoxylallemycin D. Bukti kuantitatif ini memperkuat peran LC-HRMS dalam memetakan bagaimana kondisi tumbuh memodulasi jalur lipid, alkaloid, dan fenolik pada bayam merah.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi penting dalam pengembangan pangan fungsional. Manfaat utamanya adalah tersedianya data untuk mengembangkan strategi budidaya yang optimal guna meningkatkan kandungan senyawa bioaktif pada bayam merah (Amaranthus tricolor L.). Dengan memperoleh pemahaman mendalam tentang biosintesis senyawa bioaktif, penelitian ini membantu meningkatkan kualitas gizi dan manfaat kesehatan dari tanaman tersebut. Secara ilmiah, temuan ini memperkuat potensi penggunaan LC-HRMS dan kemometrik sebagai platform utama untuk mengidentifikasi biomarker metabolit yang spesifik bagi setiap sistem budidaya (konvensional atau hidroponik). Hal ini juga memberikan bukti kuantitatif mengenai bagaimana kondisi tumbuh memodulasi jalur metabolit sekunder seperti lipid, alkaloid, dan fenolik. Senyawa penanda yang berhasil diidentifikasi berpotensi digunakan sebagai indikator kualitas pangan.