
Resistensi antimikroba merupakan masalah kesehatan global yang terus meningkat dan mengancam efektivitas terapi antimikroba. Kondisi ini mendorong pengembangan strategi dalam penemuan agen antimikroba baru, melalui pemanfaatan jamur endofit. Jamur endofit yang diisolasi dari mangrove Ceriops tagal pada lingkungan salinitas ekstrem di Sumatra Barat menghasilkan 70 isolat yang telah diidentifikasi secara konvensional. Namun, kemiripan morfologi antar isolat menyebabkan keterbatasan dalam penentuan spesies, sehingga diperlukan pendekatan identifikasi molekuler. Selain itu, jamur endofit diketahui berpotensi menghasilkan metabolit sekunder yang bersifat antimikroba, sehingga determinasi senyawa dan kajian interaksi molekuler terhadap target protein menjadi penting. Penelitian ini bertujuan tahun pertama untuk mengidentifikasi jenis atau strain jamur endofit potensial penghasil antimikroba serta menguji aktivitas antimikrob. Tahun kedua, penelitian difokuskan pada penentuan senyawa antimikroba dan evaluasi interaksi molekul aktif melalui molecular docking. Metode tahun pertama meliputi identifikasi molekuler gen ITS rRNA, karakterisasi morfologi menggunakan SEM, dan uji aktivitas antimikroba. Tahun kedua dilakukan determinasi senyawa menggunakan HPLC HMRS serta kajian molecular docking. Hasil tahun pertama menunjukkan 10 isolat memiliki aktivitas antimikroba signifikan terhadap Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Candida albicans. Isolat Nodulisporium sp. menunjukkan potensi tertinggi dengan zona hambat terbesar terhadap C. albicans (31,3±0,09 mm) dan nilai MIC 62,5±0,05 μg/mL, sehingga berpotensi sebagai sumber senyawa antimikroba baru.
Penelitian ini memberikan manfaat strategis dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi kesehatan, khususnya dalam upaya penanggulangan resistensi antimikroba (AMR). Secara ilmiah, riset ini memperkaya basis data keanekaragaman jamur endofit mangrove Ceriops tagal dari lingkungan salinitas ekstrem, serta menyediakan informasi identifikasi molekuler yang akurat sebagai rujukan taksonomi. Secara aplikatif, penelitian ini berpotensi menghasilkan kandidat senyawa antimikroba baru yang efektif terhadap bakteri dan jamur patogen, termasuk Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Candida albicans. Pemanfaatan pendekatan molecular docking memungkinkan evaluasi awal interaksi senyawa aktif dengan target protein, sehingga mempercepat proses skrining obat dan mengurangi biaya serta waktu pengembangan kandidat antimikroba. Selain itu, hasil penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan riset berbasis sumber daya hayati lokal yang berkelanjutan, mendukung program nasional kemandirian bahan baku obat. Penelitian ini juga berpotensi menjadi dasar pengembangan riset lanjutan menuju uji in vivo