
Penelitian teknologi bioflok telah banyak digunakan untuk budidaya ikan, inovasi ini dilakukan dengan target dapat mengurangi polutan mikroplastik dan memperbaiki kualitas air. Tujuan dari riset ini adalah: mengaplikasikan teknologi bioflok untuk mengurangi polutan mikroplastik dan meningkatkan kualitas air. Teknologi bioflok (BFT) efektif dalam meningkatkan kualitas air dengan kadar amonia, nitrit, nitrat, fosfat, dan sulfat berada di bawah baku mutu nasional (PP No. 21 Tahun 2021). Bioflok juga mampu meningkatkan kandungan protein kasar dan nitrogen total pada ikan nila. Perlakuan B mencatat hasil tertinggi (24,28% protein kasar dan 3,88% nitrogen total), selain itu, bioflok menjaga tingkat BOD dan COD tetap aman, terjadi sedikit penurunan DO akibat aktivitas mikroba. Analisis Bioconcentration Factor (BCF) dan Target Hazard Quotients (THQ) memastikan ikan nila yang dibudidayakan dengan bioflok aman untuk konsumsi manusia. Penggunaan teknologi bioflok secara signifikan meningkatkan performa ikan nila, dengan hasil ADG (0,87–1,03 g/ekor/hari), ABW (56,58–73,3 g/ekor), produksi (1,18–2,00 kg), SGR (2,56–3,24%), FCR (0,69–2,56), dan SR (84,00–94,67%). Bioflok dapat mengurangi kontaminasi logam berat dan mikroplastik, potensi risiko masih ada, terutama pada konsentrasi mikroplastik tinggi. Mikroplastik ditemukan dalam daging dan usus ikan nila dengan jenis polimer seperti: Polyamide (PA), Polyethylene (PE) dan Polyethylene Terephthalate (PET). Nilai PLI, PHI, dan PERI menunjukkan tingkat risiko pencemaran yang bervariasi dari rendah hingga tinggi.
Teknologi bioflok ini bermanfaat bagi masyarakat untuk budidaya ikan air tawar yang lahannya terbatas tanpa penggantian air. Bioflok yang dihasilkan bisa dijadikan sebagai pakan alami bagi ikan pengganti pakan alternatif, disamping dapat meningkatkan kualitas air dan bio sekuriti.