
Penelitian ini mengungkap bahwa manajemen Penyakit Ginjal Kronik (PGK) di Indonesia dipengaruhi oleh faktor multidimensional yang saling berinteraksi antara tenaga kesehatan, pasien, sistem layanan, dan konteks sosial-budaya. Dari perspektif profesional kesehatan, terdapat tiga kelompok temuan utama, yaitu faktor pendukung, faktor penghambat, dan implikasi sistemik layanan. Faktor pendukung paling menonjol adalah kompetensi dan peran strategis perawat nefrologi sebagai first contact pasien, terutama dalam edukasi berkelanjutan, manajemen cairan dan diet, perawatan akses vaskular, serta dukungan psikososial. Edukasi pasien dan keluarga yang dilakukan secara personal dan berulang dinilai efektif meningkatkan kepatuhan dan kualitas hidup, meskipun belum terstruktur secara sistematis di semua fasilitas. Di sisi lain, penelitian ini mengidentifikasi hambatan signifikan pada level sistem dan kebijakan, seperti keterbatasan logistik (obat dan alat dialisis), rasio perawat–pasien yang tinggi, belum optimalnya dukungan terhadap CAPD, serta proses transplantasi ginjal yang panjang dan dipengaruhi faktor budaya. Hambatan sosial-ekonomi, termasuk biaya transportasi, rendahnya literasi kesehatan, dan keterbatasan dukungan keluarga, semakin memperberat pengelolaan PGK. Selain itu, layanan primer belum berfungsi optimal dalam skrining dan edukasi dini PGK. Temuan ini menegaskan perlunya pendekatan multisektoral dan penguatan sistem kesehatan untuk meningkatkan kualitas dan keberlanjutan layanan PGK di Indonesia.
Hasil penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan kualitas manajemen Penyakit Ginjal Kronik (PGK) di Indonesia melalui penguatan peran perawat nefrologi dalam edukasi, manajemen gejala, dan pendampingan pasien dialisis. Temuan penelitian dapat menjadi dasar perbaikan sistem layanan, khususnya terkait logistik dialisis, rasio tenaga kesehatan, serta penguatan layanan CAPD dan transplantasi ginjal. Selain itu, hasil penelitian ini mendukung pengembangan skrining dini PGK di layanan kesehatan primer dan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan. Secara akademik, penelitian ini memperkaya bukti kontekstual untuk pengembangan intervensi keperawatan berbasis lokal, penyusunan modul pelatihan, serta menjadi landasan penelitian lanjutan dan perumusan kebijakan layanan ginjal yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan.