
Penelitian ini menemukan bahwa konfigurasi dan tipe elemen pengaku (bracing) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja seismik bangunan baja bertingkat. Berdasarkan hasil analisis pushover dan pengembangan kurva fragilitas, diperoleh perbedaan yang jelas pada probabilitas terjadinya kerusakan untuk setiap tingkat kerusakan, yaitu slight, moderate, extensive, dan complete damage. Pada tingkat kerusakan ringan hingga sedang, sistem dengan kekakuan yang lebih tinggi menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam menunda terjadinya kerusakan awal, ditandai dengan nilai simpangan spektral yang lebih besar sebelum probabilitas kerusakan meningkat secara signifikan. Sebaliknya, pada tingkat kerusakan berat hingga keruntuhan, sistem dengan daktilitas yang lebih tinggi mampu menahan simpangan yang lebih besar dan menunjukkan ketahanan yang lebih baik terhadap kegagalan struktur. Temuan ini menegaskan adanya trade-off antara kekakuan dan daktilitas dalam perencanaan struktur tahan gempa. Sistem yang sangat kaku efektif untuk mengontrol kinerja pada tingkat layan, namun kurang optimal dalam menahan deformasi besar akibat gempa kuat. Sebaliknya, sistem yang lebih daktail memberikan tingkat keselamatan yang lebih tinggi pada kondisi gempa ekstrem. Dengan demikian, pemilihan sistem dan konfigurasi struktur harus disesuaikan dengan target kinerja seismik yang diinginkan.
Penelitian ini memiliki potensi utama dalam mendukung penerapan perencanaan struktur baja tahan gempa berbasis kinerja (performance-based seismic design), khususnya pada bangunan bertingkat dengan sistem rangka berpengaku. Dengan membandingkan kinerja seismik berbagai konfigurasi Eccentrically Braced Frame (EBF) serta tipe penampang bracing melalui pendekatan fragility curve, penelitian ini memberikan pemahaman kuantitatif mengenai probabilitas terjadinya kerusakan pada berbagai tingkat intensitas gempa. Hasil penelitian ini berpotensi menjadi referensi teknis bagi praktisi dan perencana struktur dalam menentukan konfigurasi dan tipe bracing yang paling optimal sesuai dengan target kinerja, baik untuk tingkat layan (serviceability), keselamatan jiwa (life safety), maupun pencegahan keruntuhan (collapse prevention). Selain itu, pendekatan berbasis pushover dan fragility curve yang digunakan dapat dikembangkan lebih lanjut untuk evaluasi risiko gempa, analisis keandalan struktur, serta kajian mitigasi bencana pada bangunan eksisting. Secara akademik, penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya literatur mengenai perilaku nonlinier struktur baja berpengaku, serta dapat menjadi dasar pengembangan model evaluasi seismik yang lebih komprehensif untuk wilayah dengan tingkat kegempaan tinggi seperti Indonesia.