
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari setengah anak (50,41%) menerima makanan pendamping yang tidak tepat. Sebagian besar anak (87,3%) diperkenalkan makanan pendamping pada waktu yang tepat, dan sebagian besar memenuhi rekomendasi Frekuensi Makan Minimum (MMF) (82,23%). Hampir dua pertiga anak (64,75%) mencapai Keragaman Diet Minimum (MDD), sementara lebih dari setengahnya (55,3%) memenuhi kriteria Diet Minimum yang Dapat Diterima (MAD). Secara keseluruhan, 10,7% anak kekurangan berat badan, 30,3% mengalami stunting, dan 16,8% mengalami wasting. Masalah gizi ini lebih umum terjadi pada anak usia 12 hingga 23 bulan. Proporsi anak laki-laki yang kekurangan berat badan dan wasting lebih tinggi daripada anak perempuan, sedangkan stunting lebih umum terjadi pada anak perempuan. Pemberian makanan pendamping ASI dini secara signifikan berhubungan dengan tingkat pendidikan ibu (p = 0,006), dan nenek sebagai sumber informasi (p = 0,010), di mana ibu dengan pendidikan lebih rendah lebih cenderung memperkenalkan makanan pendamping ASI terlalu dini (AOR = 3,39, 95% CI: 1,02–11,32). Ibu yang menerima informasi dari nenek lebih cenderung memperkenalkan makanan pendamping ASI tepat waktu (AOR = 2,73, 95% CI: 1,06–6,98). Studi ini menyoroti pentingnya pendidikan dan pengaruh keluarga terhadap praktik pemberian makanan pendamping ASI dan merekomendasikan penguatan pendidikan kesehatan bagi ibu, terutama mereka yang berpendidikan rendah
Dengan adanya data terkait praktik MP-ASI dan faktor yang mempengaruhi, maka dapat membantu profesional kesehatan terutama perawat, dalam menerapkan intervensi pendidikan kesehatan untuk mendorong ibu atau pengasuh dalam memberikan makanan pendamping ASI yang tepat. Hal ini dapat menjadi salah satu strategi bagi pengambil kebijakan kesehatan dalam rangka mengatasi dan mencegah stunting pada masa kanak-kanak