
Limbah penyulingan serai wangi masih jarang dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan biochar. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan menggunakan rancangan variasi logam, yaitu logam Pb dan Cd. Efisiensi penyisihan terbesar berada pada minggu keempat dengan dosis 40% yaitu sebesar 82,39%. Dalam dosis 10-50% biochar terjadi penyisihan logam Pb sebesar 51-82% dimana pada minggu pertama penyisihan berada pada rentang 51-80%, minggu kedua berada pada rentang 65-77%, minggu ketiga berada pada rentang 68-75%, dan minggu keempat berada pada rentang 69-82%. Efisiensi penyisihan Cd terbesar berada pada minggu keempat dengan dosis 40% yaitu sebesar 86,57%. Dalam dosis 10-50% biochar terjadi penyisihan logam Cd sebesar 46-86% dimana pada minggu pertama penyisihan berada pada rentang 46-79%, minggu kedua berada pada rentang 47-78%, minggu ketiga berada pada rentang 62-74%, dan minggu keempat berada pada rentang 64-86%. Nilai pH tanah meningkat seiring dengan bertambahnya dosis biochar, dengan nilai tertinggi yaitu 7,20 pada perlakuan kontrol dan 9,44 pada perlakuan dengan dosis 50% biochar yang tercatat pada minggu pertama. Berdasarkan hasil peningkatan dan stabilisasi pH tanah setelah empat minggu, dosis biochar yang optimal direkomendasikan sebesar 40%, karena mampu memberikan keseimbangan antara efektivitas peningkatan pH dan memberikan efisiensi penyisihan tertinggi.
Potensi manfaat penelitian ini meliputi informasi mengenai pemanfaatan limbah penyulingan serai wangi yang jarang digunakan sebagai bahan pembuatan biochar dan memberikan informasi besarnya pengaruh efektivitas biochar terhadap penyisihan logam berat, serta memberikan masukan kepada masyarakat demi peningkatan kualitas tanah untuk kesehatan lingkungan lahan yang lebih baik.