
Hampir semua responden berusia 20-35 tahun (84,8%), ibu rumah tangga (79,5%), dan tidak menderita anemia (82,6%). Mayoritas responden adalah multigravida (56,8%) dan memiliki pendapatan keluarga yang cukup (74,2%). Hampir setengahnya memiliki diploma/gelar sarjana (46,2%) dan berada di trimester ketiga kehamilan (38,6%) (Tabel 1). Mayoritas responden (72%) tidak mengalami Sindrom Kaki Gelisah (RLS), sementara hampir setengahnya (28%) responden melaporkan mengalami RLS. Mayoritas ibu hamil dengan RLS mengalami RLS dengan tingkat keparahan sedang (67,6%), ringan (16,2%), dan berat (16,2%) Rata-rata kualitas tidur ibu hamil adalah 7,27, dengan rentang skor PSQI 0 hingga 21, median 7, dan standar deviasi 3,238. Sebagian besar ibu hamil memiliki kualitas tidur yang buruk, dengan 82 ibu (62,1%) mengalami kualitas tidur buruk dan 50 lainnya (37,9%) memiliki kualitas tidur yang baik (Tabel 5). Hasil uji statistik menunjukkan nilai p sebesar 0,001 (p-value < 0,05), yang menunjukkan hubungan signifikan antara Sindrom Kaki Gelisah (Restless Legs Syndrome/RLS) dan kualitas tidur pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Begalung, Kota Padang. Hasil tersebut juga menunjukkan korelasi positif dengan kekuatan sedang (r = 0,541), yang menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat keparahan RLS, semakin tinggi skor PSQI, yang mengindikasikan kualitas tidur yang lebih buruk.
Petugas kesehatan, khususnya perawat dan bidan, diharapkan melakukan skrining dini terhadap gejala RLS dan gangguan tidur pada wanita hamil serta memberikan edukasi tentang cara mengelola gejala untuk meminimalkan dampaknya terhadap tidur. Konseling tentang kebersihan tidur, pengenalan gejala RLS, dan diskusi tentang faktor risiko seperti anemia, serta pentingnya mengonsumsi makanan kaya zat besi, juga harus diberikan melalui kelas kehamilan atau selama kunjungan antenatal untuk meningkatkan kesadaran, mencegah RLS, dan menjaga kualitas tidur selama kehamilan. Studi di masa mendatang perlu menggunakan desain longitudinal untuk meneliti bagaimana gejala RLS dan kualitas tidur berubah selama kehamilan dan periode pascapersalinan. Selain itu, diperlukan lebih banyak studi untuk meneliti penyebab biologis, seperti status zat besi dan kekurangan mikronutrien, untuk menentukan dampaknya terhadap gangguan tidur yang disebabkan oleh RLS terkait kehamilan. Penelitian intervensi yang berkaitan dengan penggunaan intervensi nonfarmakologis yang dipimpin oleh perawat atau bidan (misalnya, edukasi tentang kebersihan tidur dan relaksasi yang baik) disarankan. Kesimpulannya, populasi yang lebih besar dan lebih beragam dari berbagai lingkungan perawatan kesehatan akan memperkuat kemampuan generalisasi studi ini.