
Program Kemitraan Masyarakat Membantu Usaha Berkembang (PKM-MUB) bermitra dengan Kelompok Tani Taruko Saiyo di Kelurahan Koto Luar, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Kelompok tani ini memiliki luas lahan sekitar ±10 ha dan berpotensi menjadi kelompok percontohan dalam bidang pertanian berkelanjutan. Namun, beberapa kendala masih dihadapi, seperti masih minimnya praktik pengolahan limbah pertanian, penurunan kualitas tanah, serta keterbatasan literasi dan keterampilan petani dalam penerapan teknologi tepat guna.Tujuan utama program ini adalah meningkatkan tingkat keberdayaan mitra, baik dalam aspek manajemen produksi maupun sosial budaya. Selain itu program ini juga bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, keterampilan, dan partisipasi mitra dalam pengelolaan limbah pertanian serta penerapan teknologi tepat guna guna menciptakan kondisi iklim mikro yang lebih optimal bagi tanaman melalui pemanfaatan limbah pertanian. Kegiatan edukasi dan pemberdayaan di Kelompok Tani Taruko Saiyo berhasil meningkatkan keberdayaan petani, baik dalam aspek manajemen produksi maupun sosial-budaya. Petani menunjukkan peningkatan pemahaman dan keterampilan dalam mengelola limbah pertanian melalui penerapan teknologi tepat guna. Selain itu, partisipasi petani dalam seluruh rangkaian kegiatan sangat tinggi, dan sebagian petani mulai menerapkan hasil pelatihan secara langsung di lahan mereka. Sebagai langkah keberlanjutan, tim juga menyusun panduan teknis dan dokumentasi sederhana yang dapat digunakan untuk pembelajaran lebih lanjut.
Program Kemitraan Masyarakat Membantu Usaha Berkembang (PKM-MUB) di Kelompok Tani Taruko Saiyo memiliki potensi keberlanjutan yang signifikan melalui penerapan teknologi ramah lingkungan dan pemberdayaan petani. Pengolahan limbah pertanian menjadi kompos, pembuatan lubang resapan biopori (LRB), produksi biochar dari sekam padi, dan penggunaan mulsa jerami berkontribusi pada peningkatan kualitas tanah, pengelolaan air yang lebih efisien, serta pengurangan limbah pertanian. Keberlanjutan program ini semakin terjamin dengan peningkatan pemahaman dan keterampilan petani dalam mengelola limbah serta menerapkan teknologi tepat guna. Selain itu, pemberdayaan sosial budaya yang tercipta memperkuat solidaritas dan ketahanan komunitas. Dengan penerapan praktik yang berkelanjutan, petani dapat terus mengembangkan usaha mereka secara mandiri, menciptakan pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan dalam jangka panjang.