
menunjukkan bahwa hanya 60% peserta yang memiliki pemahaman dasar terkait TOGA dan manfaatnya sebagai obat tradisional. Sebagian besar peserta mengetahui TOGA secara umum, namun belum memahami teknik budidaya yang tepat maupun manfaat spesifik setiap tanaman. Peserta banyak yang tidak mengetahui bahwa tanaman herbal yang umum ditemukan di sekitar rumah memiliki potensi sebagai imunomodulator dan pencegah penyakit. Hal ini menunjukkan efektivitas metode pelatihan yang menggabungkan ceramah, diskusi, dan praktik lapangan. Penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran partisipatif terbukti meningkatkan retensi pengetahuan dan keterampilan praktis hingga lebih dari 60% dibanding metode ceramah saja. Peningkatan ini juga menjadi indikator keberhasilan tahap awal program, meskipun keberlanjutan efeknya bergantung pada konsistensi praktik di rumah masing-masing. Hasil ini menunjukkan bahwa masyarakat pedesaan cenderung belum memahami manfaat spesifik TOGA meskipun sering menanamnya. Dengan adanya pengabdian ini warga memperoleh pengalaman yang dapat membangun keterampilan bercocok tanam herbal secara organik. Dengan demikian, kebun TOGA tidak sekadar menjadi fasilitas fisik, tetapi juga simbol kolaborasi, kemandirian, dan ketahanan pangan serta kesehatan di tingkat nagari.
untuk keberlanjutan akan difokuskan pada pengembangan dan diversifikasi produk inovasi berbasis Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Selain gummy herbal, masyarakat akan dilatih untuk menghasilkan berbagai produk olahan herbal lainnya yang bernilai jual dan memiliki potensi pasar lebih luas. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya mendorong pemanfaatan TOGA untuk kesehatan, tetapi juga memperkuat daya saing ekonomi lokal melalui pengembangan produk herbal yang berkelanjutan.