
Program pengabdian masyarakat ini memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kapasitas dan kemandirian masyarakat di Kelurahan Sungai Pisang, Kota Padang, khususnya dalam aspek gizi, sanitasi, dan kesehatan lingkungan. Melalui rangkaian edukasi dan diskusi partisipatif, masyarakat—terutama ibu rumah tangga, ibu balita, dan kader kesehatan—mengalami peningkatan pengetahuan dan kesadaran mengenai gizi seimbang, kesehatan reproduksi, serta keterkaitan erat antara sanitasi lingkungan dan status gizi keluarga. Dampak ini terlihat dari perubahan sikap dan komitmen masyarakat untuk mulai menerapkan praktik hidup bersih dan sehat di tingkat rumah tangga. Selain dampak kognitif dan perilaku, program ini juga mendorong penguatan sosial melalui terbentuknya kesepakatan bersama dalam pengelolaan sampah rumah tangga, khususnya pengolahan sampah organik menjadi kompos dan upaya pengurangan penggunaan plastik sekali pakai. Inisiatif ini tidak hanya berpotensi memperbaiki kualitas lingkungan, tetapi juga berkontribusi menurunkan risiko penyakit berbasis lingkungan yang selama ini memengaruhi status gizi kelompok rentan. Secara berkelanjutan, pengabdian ini memperkuat kolaborasi antara masyarakat, pemerintah kelurahan, dan tenaga kesehatan, sehingga menjadi fondasi penting bagi perbaikan kesehatan masyarakat, peningkatan kualitas hidup, serta dukungan terhadap pencapaian tujuan pembangunan kesehatan dan sanitasi di wilayah pesisir.
Program pengabdian masyarakat ini memiliki potensi keberlanjutan yang kuat karena dirancang berbasis pemberdayaan dan partisipasi aktif masyarakat di Kelurahan Sungai Pisang, Kota Padang. Peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai gizi, sanitasi, dan pengelolaan sampah menjadi modal sosial penting yang memungkinkan praktik hidup bersih dan sehat terus diterapkan setelah program selesai. Keterlibatan kader kesehatan, ibu PKK, serta tokoh masyarakat berperan sebagai agen perubahan yang dapat melanjutkan edukasi secara mandiri di tingkat rumah tangga dan komunitas. Keberlanjutan juga diperkuat melalui solusi lokal yang realistis, seperti pengolahan sampah organik menjadi kompos skala rumah tangga dan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai. Praktik ini relatif murah, mudah direplikasi, dan sesuai dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir, sehingga berpeluang besar untuk dipertahankan dan dikembangkan. Selain itu, adanya dukungan pemerintah kelurahan dan puskesmas membuka peluang integrasi program ini dengan kegiatan rutin kesehatan masyarakat. Ke depan, potensi keberlanjutan dapat semakin diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor, seperti dengan Dinas Lingkungan Hidup dan mitra CSR, misalnya Pertamina, untuk penyediaan sarana pengelolaan sampah. Dengan dukungan kebijakan dan kemitraan berkelanjutan, program ini berpotensi berkembang menjadi model pengelolaan gizi dan sanitasi berbasis masyarakat di wilayah pesisir.