
Pengabdian ini merupakan sinergi antara mahasiswa KKN Universitas Andalas, Nagari Kapuh, Puskesmas, dan SMA N 1 Koto XI Tarusan dalam upaya menekan angka stunting melalui edukasi kesehatan dan kolaborasi berbagai pihak. Pengabdian menunjukkan bahwa stunting merupakan gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, terutama pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Dengan temuan di Nagari Kapuh, tercatat 32 anak mengalami stunting, 19 wasting, 35 underweight, dan 2 obesitas. Kegiatan pengabdian berfokus pada pencegahan stunting melalui diskusi kelompok terfokus (FGD) yang melibatkan siswa, tenaga kesehatan, dan pengajar. Kebiasaan tidak rutin sarapan dan konsumsi makanan siap saji cukup umum di kalangan siswa, yang dapat memengaruhi kecukupan gizi mereka. Selain itu, kebiasaan merokok, terutama di kalangan siswa laki-laki, menjadi tantangan serius yang berpotensi meningkatkan risiko kesehatan di masa depan. Dengan pendekatan berbasis kearifan lokal, kegiatan ini berhasil meningkatkan kesadaran siswa terhadap pentingnya pola makan sehat dan bahaya kebiasaan buruk seperti merokok. Kolaborasi dengan Puskesmas dan posyandu setempat juga mendukung pelaksanaan pemeriksaan kesehatan serta distribusi susu dan bahan makanan tambahan kepada bayi dan balita. Sinergi ini tidak hanya memberikan dampak langsung terhadap mitra, tetapi juga mendorong siswa dan masyarakat untuk menjadi agen perubahan dalam mencegah stunting secara berkelanjutan.
Kegiatan sosialisasi pencegahan stunting memberikan manfaat jangka panjang bagi siswa, keluarga, dan masyarakat sekitar. Dengan meningkatkan kesadaran siswa tentang bahaya stunting dan pentingnya pola makan bergizi, program ini dapat menjadi langkah awal dalam menciptakan generasi muda yang lebih sehat dan produktif. Peningkatan pemahaman tentang stunting mendorong siswa untuk menerapkan kebiasaan hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi dan menghindari kebiasaan buruk seperti merokok. Melalui diskusi kelompok, siswa juga belajar bekerja sama dalam merumuskan solusi yang relevan dengan lingkungan mereka, yang dapat diterapkan dalam komunitas sekitar. Tablet penambah darah yang diberikan kepada siswa perempuan membantu mengatasi anemia, salah satu faktor risiko utama stunting. Jika program ini dilakukan secara konsisten, potensi manfaatnya meluas hingga ke generasi berikutnya, mengingat siswa yang teredukasi akan menyebarkan pengetahuan ini ke keluarga mereka di masa depan. Selain itu, program ini dapat menjadi model edukasi kesehatan bagi sekolah lain. Dengan melibatkan berbagai pihak seperti guru, orang tua, dan tenaga kesehatan, sosialisasi ini dapat menciptakan efek domino, meningkatkan kesadaran kolektif, dan berkontribusi pada penurunan angka stunting secara regional.