Performance and Application of Air Quality Models in Indonesia: a Review
1778048536.png&w=2048&q=75)
Temuan utama kajian ini menunjukkan bahwa pemodelan kualitas udara di Indonesia selama 2010–2024 telah berkembang cukup pesat, namun masih bersifat terfragmentasi. Berdasarkan telaah sistematis terhadap 122 artikel menggunakan pedoman PRISMA 2020, model yang paling banyak digunakan adalah AERMOD (27,5%), diikuti HYSPLIT (15,8%), sedangkan pendekatan pembelajaran mesin seperti Random Forest, LSTM, dan ANN mulai meningkat penggunaannya. Kajian juga memperlihatkan bahwa penelitian masih terkonsentrasi di Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat, sementara wilayah Indonesia timur relatif kurang terwakili. Sumber pencemar yang paling banyak dimodelkan berasal dari sektor transportasi dan industri, dengan polutan dominan berupa PM2.5 dan PM10. Dari sisi kinerja, AERMOD/CALPUFF dan WRF-Chem/CMAQ menunjukkan performa yang cukup baik, sedangkan model pembelajaran mesin cenderung menghasilkan akurasi prediktif lebih tinggi, meskipun keunggulan tersebut sangat bergantung pada konteks data dan tujuan studi. Kendala utama yang teridentifikasi meliputi inventaris emisi yang belum lengkap, jaringan pemantauan yang masih terbatas, kompleksitas meteorologi tropis, serta lemahnya integrasi hasil pemodelan ke dalam kebijakan. Oleh karena itu, penguatan inventaris emisi nasional, perluasan pemantauan berbasis sensor murah dan satelit, serta pengembangan model hibrida fisik-data menjadi prioritas strategis di Indonesia pada masa depan.
Tahun Penelitian: 2024
Ketua: Prof. Vera Surtia Bachtiar, S.T, Master of Science, P
Anggota:
- Ir Purnawan, M.T, Ph.D
Kata Kunci: Air quality modeling; Indonesia; PRISMA; Machine learning; Emission inventory



