Prevalensi Ektoparasit Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Pada Tambak di Kawasan Padang Pariaman, Sumatra Barat
.jpg&w=2048&q=75)
Kabupaten Padang Pariaman, yang terdiri dari 40% dataran rendah dan 60% dataran tinggi, mengalami perkembangan pesat dalam budidaya tambak udang, khususnya udang vaname (Litopenaeus vannamei). Udang ini populer karena memiliki produktivitas tinggi, pertumbuhan cepat, dan dapat dipelihara pada kepadatan tinggi. Namun, kelemahannya adalah rentan terhadap parasit, yang dapat menghambat pertumbuhan dan menyebabkan kematian. Penelitian di kawasan Padang Pariaman mengidentifikasi enam spesies ektoparasit, yaitu Acineta sp., Arcella sp., Epistylis sp., Trichodina sp., Vorticella sp., dan Zoothamnium sp., serta satu spesies endoparasit, Enterocytozoon hepatopenaei (EHP). Prevalensi tertinggi ditemukan pada Zoothamnium sp. (50-69%), sedangkan pada benur udang umur 40 hari, prevalensi ektoparasit mencapai 70-89%. Organ yang paling sering diserang adalah ekor, kaki jalan, dan kaki renang. Faktor internal seperti kualitas air dan kepadatan udang memengaruhi prevalensi parasit. Selain itu, udang betina memiliki tingkat prevalensi lebih tinggi karena aktivitas makan yang intensif dan respons imun yang lebih rendah dibandingkan jantan. Kualitas air juga memengaruhi serangan parasit, di mana parameter pH, DO, BOD, COD, Amonia (NH3), dan seng (Zn) tidak memenuhi standar ideal. Manajemen yang baik diperlukan untuk mencegah infeksi parasit dan kerugian produksi.
Tahun Penelitian: 2024
Ketua: Dr. Dra Mairawita, M.Si
Kata Kunci: Ektoparasit;Endoparasit;Prevalensi;Udang Vaname



